Sunday, December 23, 2012

I've been passed 2012

Posted by rismawid at 8:53 PM 0 comments


Ga tau kenapa, gue males banget deh ngomongin pencapaian di 2012. Ga bijak sih emang kalo gue bilang ga dapet apa-apa di 2012. Banyak hal mengharu biru di 2012, dan huh rasanya malas mengingatnya. Gue serasa nge repeat hidup gue di 2009, dan udah ketebak banget 2013 ini gue akan mengalami masa-masa 2010 gue. Edan betul-betul di luar ekspektasi gue.

Little things in 2012 that I've been passed
  • Jan, itu kerjaan kantor gue dari akhir taun sibuknya nyambung sampe bulan March. Bulan ini dilewati dengan bekerja, bekerja dan bekerja, nyaris tak punya hari libur.
  • Feb, sempet recovery relationship sama si gembol, ritual wajib tahunan ngunjungi Jemanii Resto "candle light dinner". Di bulan ini juga gue escape dari kesibukan kantor menempuh 9 jam perjalanan ke Purwokerto, Batu Raden bareng temen-temen kantor, it was nice memory.
  • March, Gue terpaksa cabut dari kantor lama gue, bukan dipecat tapi semacam dipecat, 2 taun saja gue bertahan disitu. Ga perlu lah gue explain alesannya, takutnya ga sengaja ada bos baru gue baca blog gue kan gawat!! Pokonya sangat menyedihkan dan mengharu biru. Di bulan March juga gue melepas penat trip ke Lombok sebagai pengangguran, next week abis dari Lombok lanjut ke Tidung, ngitemin badan lah mayan, sama ngabisin tabungan. Oia di awal bulan ini juga gue sempetin attend di live concert Roxette sama gembol, seneng banget deh.

Wednesday, December 19, 2012

Cerpen Koran Mingguan

Posted by rismawid at 10:28 AM 0 comments
Teknis Standar Pengiriman Naskah
 
Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.
Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.
Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .
Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.
“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”
Selesai.
Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin.
Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
.
Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14
17 Januari 2012 09:29 WIB
.
Contoh pengantar pengiriman.
.
Dari : Saroni Asikin
Kepada : sastra@jawapos.co.id Jawapos
Dikirim : Kamis, 15 September 2011 5:25
Judul : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
.
Semarang, 15 September 2011
Kepada
Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
di tempat.
Dengan hormat,
Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Saroni Asikin
saroniasikin@yahoo.co.id
Tlp. 081390317733
Rek Mandiri Pati 1350005188246 a.n. Saroni Asikin

sumber : http://lakonhidup.wordpress.com/

Monday, December 17, 2012

Judas

Posted by rismawid at 8:06 PM 0 comments
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku"
kalimat tersebut tentu tidaklah sulit diterjemhkan. Kau bersamaku, aku tak meragukanmu, namun kau menjualku.

Berulang kali aku sadarkan diriku, tidaklah benar aku percaya terhadapmu. Berulang kali pula aku terkecoh dan tak meyakini betapa kau menikamku. Berulang kali aku dibuatmu celaka. Kau tahu, aku tetap berusaha meyakinimu, karena diriku bukanlah manusia yang mengandalkan intuisi untuk suatu urusan. Jika bukan kau yang berkata "Ya memang aku menikammu", maka ketahuilah teman, aku akan tetap percaya terhadapmu.

Sebodoh itukah aku?

Kau pernah menangis tak ingin melepas kepergianku, kau pun mengunjungiku. Kau tahu teman, lara yang kau ciptakan sungguh terasa melekat dihatiku. Beberapa kali aku merindukanmu, meneteskan lara yang sama ketika rindu itu mengamuk. Tapi teman senyum manismu, hangat pelukmu dan tangis kehilangan akan aku pada akhirnya tergerus kepalsuan. Congkak dan ucapmu-lah yang pada akhirnya menunjukkan dirimu.

Masa lalu, dahulu, beberapa waktu yang telah kita lalui, aku sudah tak ingin mengingatnya lagi, bahkan teka teki tentang kasihmu yang busuk sudah tak mau aku cari kebenarannya.

Teman... intuisiku kali ini melonjak-lonjak minta diperhatikan, akal sehat dan etika tetap aku suguhkan terhadapmu walau aku memutuskan kita tak usah berteman lagi. Pesan terakhirku di inbox-mu akan sangat membuat kau mengerti dan tersadar, "aku tak sebodoh itu"

SC... senyummu tetap manis teman, namun pelukmu sudah kurasakan dingin, sedingin ciuman Judas ketika memjual Isa.

Tuesday, November 27, 2012

Pensiun jadi buronan

Posted by rismawid at 4:36 PM 0 comments
Pagi-pagi sekitar jam 6 pagi di hari Sabtu, emak gue udah mulai berisik bangunin seisi penghuni rumah, especially gue!! Apaan sih mak, masih pagi di hari libur pula. OUCH!! nyaris lupa, gue punya hajat hari ini. Yep yep urgently priority di akhir bulan Nov "Gue mau test bikin SIM" yes A lisence, orang-orang bilang sulit lho mblo test nya, emak gue bilang "udah lah teh nembak aja, ga perlu nunggu cape-cape". Dengan semangat juang menjunjung birokrasi yang jujur gue tetap memilih jalur test.

Ok, jam 7.30 gue dan nyokap beserta si kecil sasa sampai di Polres, manusia-manusia berbaju cokelat itu lagi pada apel ga tau upacara, akh ga peduli juga gue. Gue dan nyokap langsung bikin surat keterangan sehat dari klinik di dekat Polres. Mobil gue parkir di depan klinik karena gue berasa grogi harus parkir di dalam Polres.

Gue dan nyokap juga si kecil sasa terpaksa jalan kaki ke dalam area Polres. Belum 50 meter berjalan dari gerbang Polres, tiba-tiba bapak setengah tua berseragam cokelat manggil-manggil dari pintu salah satu ruangan di Polres. Gue samperin dong itu bapak-bapak, namanya JAHADI, dia tanya :
"Mau kemana?"
"Mau bikin SIM pak"
"Mau test? bikin SIM ga gampang neng, nunggu lama, belum kalau ga lulus harus ngulang lagi, buang-buang waktu"
Gue sedikit kesel tuh saat itu, maksudnya apa sih ni orang tua, dia seolah menghina konstitusi nya sendiri, dengan merendahkan birokrasi yang selama ini sudah berjalan.
"Maksudnya apa ya pak?"
"Yaa saya cuma mau bantu aja, daripada capek-capek test, lebih baik lewat jalur cepat aja, tapi biayanya lebih mahal, neng tingal bayar 350ribu, abis itu tingal poto aja"
"Trus SIM nya bisa jadi kapan pak?"
"Kalau ga ada halangan bisa hari ini, ga bisa dipastikan"
hmmm males gue, roman-romannya tukang tepu nih.
"Ah engga deh pak makasih, saya mau test aja, tempo hari saya test SIM C juga lulus murni"
"Ya silahkan kalo mau capek"
Tampang Pak Jahadi langsung berubah kecut, tanpa basa basi langsung balik badan ninggalin gue dan nyokap, dasar ga sopan!

Sampai di lokasi, gue langsung daftar dan nunggu panggilan buat ambil nomor test. Gue dapet nomor test 36 gelombang III, gue langsung cek schedule time gelombang III, Schedule terpampang di depan loket registrasi, gelombang III SIM A pukul 10.00. Yaa seperti biasa lah waktu Indonesia bagian karet jeprut, gue masuk ruang AVIS untuk ujian teori jam 11.50 ngaret nyaris 2 jam.

Di dalam ruangan ada 1 orang polisi, 1 orang polwan, dan 2 orang peserta ujian 9gue dan ga tau siapa). Ujian pun dimulai, total soal ujian ada 30, syarat kelulusan adalah bisa menjawab dengan tepat minimal 18 soal. Setiap soal diberi waktu 60 detik. Smua soal pilihan ganda, menjawab soal cukup dengan menekan tombol ABC di meja ujian.

Soal ke-30 sudah terjawab, saat itu juga result test langsung keluar, dan taraaaammm gue ga lulus hahahaha gue cuma bisa jawab 10 soal saja. Dengan tampang males gue nyamperin si polisi ujian namanya Pak ANWAR, buat nanya jika mau mengulang minggu depan, prosesnya bagaimana? Si bapak ini bukannya menjawab pertanyaan gue malah balik tanya,
"Mau jadi sekarang ga SIM nya?"
"Ya maunya sih gitu, tapi kan saya ga lulus, harus ngulang lagi minggu depan"
"Kalau mau jadi sekarang 350ribu, ga usah test"
Mati gue, ni orang mau ngeruntuhin lagi idealisme gue.
"Sebentar ya pak saya mikir dulu"
Akhirnya gue keluar ruangan, berfikir sebentar dan dengan menyesal gue balik lagi menemui Pak Anwar dan membayar 350ribu untuk SIM A tanpa test.

Ga sampai 1 jam SIM gue jadi, semua proses berjalan sangat cepat. Beberapa polisi yang tadi rada sengak dan jutek tiba-tiba pada ngobral senyum dan gue betul-betul dipermudah segala sesuatunya, bahkan formulir biodata saja gue cuma disuruh tanda tangan. Gila memang tapi gue kali ini ga berani koar-koar idealisme, karena dengan menyesal gue sudah sedikit sama dengan mereka. Rasanya sungguh beda ketika gue dengan murni lulus test untuk SIM C (I proud to be myself) tapi kali ini dengan 350rb gue dinyatakan lulus mendapat SIM A (Brock of Risma). Ya gue disudutkan pada kondisi yang serba kepeped, sesegera mungkin gue harus megang SIM A, jika tidak gue terus-teruan jadi buronan operasi Lalin.

Polisi Melayani Masyarakat.
Melayani siapa? Masyarakat yang mana?

Saturday, October 27, 2012

Bye Menny

Posted by rismawid at 5:57 PM 0 comments
Oct 20, 2012 my last day driven this car.
Entahlah rasa kehilangan itu ada ketika si pembeli mengelurkan si menny dari halaman rumah kami membawanya keluar, menjauh perlahan mulai tak terlihat sampai belakang mobil sudah tak tampak lagi. Bulir-bulir panas menggenangi bola mata, hangat namun tak tercucur. Banyak memori terukir bersamanya, teganya dirimu ketika aku mengemudi seorang diri kau buat aku kelabakan di jalan tol dengan ngadat ga mau melaju, mogokmu saat nanjak jembatan memberikan sumbangsih kemacetan beberapa KM, alarm mu yang suka tiba-tiba menyala sudah membuatku cukup bersabar menahan malu, AC mu yang ngadatan selalu membuatku mandi keringat, setir mu yang berat naujubillah membuatku harus dipijit seminggu 2x. Tapi kenangan manis pun tak kalah banyak, memilikimu sungguh nano-nano rasanya.
Bye bye Menny, semoga majikan barumu lebih berduit dari kami, hingga kau dirawat dan kembali cantik.


Wednesday, September 5, 2012

Big dream

Posted by rismawid at 9:15 PM 0 comments
This is not just a dream, this is a big dream.
Ya, i proud to be myself.
maybe i'm not a doctor, or a lawyer, i'm just a jongos, but i have a big dream.
sometimes i'm afraid to start make this dream come true.
i spend many days, many nights, just thinking please riss dont be scare.
go ahead go ahead, you must be brave and serious.

Friday, August 10, 2012

Kunang-kunang di temaram malam

Posted by rismawid at 10:21 AM 0 comments
KEPARAT!!!
"Miskin gue ga semiskin lu gigolo sinting!!!"
"Tahan Ray, please gue mohon"
Ia menjerit-jerit seperti sedang kesurupan.
***
Seteguk terakhir aku habiskan untuk menghangatkan tubuh. Malam ini sangat temaram. Sedikit mengkhayal mendapati kunang-kunang disini. Khayalan bodoh. Tentu saja setiap hari yang kudapati adalah kunang-kunang. Sinar yang terpancar begitu bening dan berbau harum, hilir mudik berterbangan melewati batang hidungku, sesekali kuhisap dalam-dalam aroma kunang-kunang yang mengerling. Harummu membuat degub jantungku memompa liar. Sepasang mata ini lekat-lekat menikmati panorama kunang-kunang namun aku tetaplah aku, jangankan untuk berlari menangkap kunang-kunang, terpikir mengejarnya pun tak pernah kuijinkan. Setiap hari hanya diijinkan menelan ludah.

"Bir satu bang"
"Silahkan mba"
"Nebeng duduk ya"
"Boleh mba silahkan"

Duduk saja tak akan saya tagih kok mba, bila perlu birnya saya ga kasih harga mba. Saya ikhlas kios rokok butut ini mba duduki lama-lama. Pria sinting bergumam dalam hati, padahal menatap wanita saja tak berani.

"Ratih"
Wanita pembeli bir ini menyodorkan tangan. Apa ini artinya ia mengajakku berkenalan?
Sedikit bergetar kuberanikan membalas sodoran tangannya.
"Ray. Raymond"
Ucapku sangat terbata-bata.
"Raymond? keren amat nama lu. Tapi ga sekeren rejekinya ya?"
Ratih menatap langit lalu meraih lenganku yang sedari tadi mematung dibawah lampu jalan diatas trotoar.
"Becanda Mon. Eh Ray maksudnya. Duduk sini temenin gue"
Rasanya aku tak perlu berfikir panjang, aku putuskan akan duduk disamping Ratih.
"Nunggu dijemput mba?"
Aku memberanikan diri memulai percakapan
"Emm bukan. Gue nunggu dihajar"
Nada bicara Ratih begitu santai tanpa beban.
"Akh mba Ratih ini suka becanda"
Ratih melirikku dan tersenyum.
Dewa yang agung wanita disampingku manis sekali. Baunya harum, tak bosan aku menghisapnya. Apakah ini kunang-kunang? Bolehkan aku. Ah tidak aku kan hanya diijinkan menelan ludah.

Pukul 02.00 lewat tengah malam. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tak jauh dari kiosku, kira-kira 20 meter. Ratih berdiri meletakkan uang 50.000 di pangkuanku.
"Semoga rejekimu kelak sekeren namamu"
Bisiknya sambil berlalu dari hadapanku. Kini indera penciumanku sedang bermanja-manja dengan bau harum yang Ratih tinggalkan. Seketika saja aku tersadar, apa ini artinya pertemuan pertama sekaligus terakhir dengan Ratih?

3 orang pria keluar dari mobil, salah satunya menghampiri sekumpulan orang pinggiran yang sedang mengemper di emperan ruko-ruko sepanjang trotoar jalan Mangga besar. Kuperhatikan Ratih berjalan ke arah 2 pria yang bersenderan di sedan hitam yang terparkir di pinggir trotoar. Malam mulai meniupkan nafas-nafas dingin menusuk tulang, jaket lusuhku sudah benar-benar tak bisa lagi menahan terpaan nafas malam. Dan entahlah malam ini terasa sangat dingin dan temaram.

"BANGSAT!!!"
Banci lu semua!!!
Suara perempuan dari jarak 20 meter. Tak salah lagi itu suara Ratih. Aku berlari menghampiri keributan yang sedang berlangsung di tepi jalan di balik mobil sedan hitam.
"HENTIKAN!!!"
Pekikku mencoba melerai penganiayaan yang mereka lakukan terhadap Ratih. Ratih sudah tersungkur diatas aspal jalan, darah bercucuran dari hidung dan pelipisnya, kedua pria biadab ini masih saja melancarkan tendangan-tendangan keras ke arah perut Ratih. Ratih tak bergeming, ia diam saja menutup perut dengan kedua tangannya. Aku mencoba menahan serangan kedua pria biadab ini, belum sempat aku berhasil, tiba-tiba seseorang meraih pundakku dari belakang. Aku tersayat, aku ingin muntah. Dari dalam perut seolah ada dorongan kuat yang harus aku muntahkan. Aku terjatuh, menggelepar di samping Ratih. Semua kekacauan pun terhenti.

Dingin malam tak lagi terasa. Aku kian hangat. Ratih tertunduk menangis disampingku. Sedan hitam sudah berlalu. Orang-orang pinggiran yang sedari tadi diam kini mulai berdatangan. Tak seorang pun berani menyentuhku. Aku hanya jadi salah satu hiburan mereka di tengah malam dingin yang temaram.

"Kenapa ikut campur urusanku bodoh?"
"Gigolo sinting itu ayah dari janinku.
"Gue bersumpah dia harus mati demi sekaleng bir yang udah gue bayar tadi."
Ratih, air matanya deras mengalir berjatuhan di pipiku. Aku semakin hangat. Dan si kental merah padam ini mulai menggenang, menciptakan kehangatan di sekujur tubuhku.
Ratih, bau harumnya perlahan menghilang. Aku sepertinya sudah dingin atau bahkan hampir membeku.
Lampu jalanan tak lagi menyala, nafas malam tak lagi mempermainkanku. Begitu juga kunang-kunang, tak lagi berterbangan melewati batang hidungku.
Bau harum Ratih sudah benar-benar hilang. Tiba waktuku untuk tidur panjang. Aku tak akan lagi menelan ludah.
 

Hot Tea Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos