Sunday, December 23, 2012

I've been passed 2012

Posted by rismawid at 8:53 PM 0 comments


Ga tau kenapa, gue males banget deh ngomongin pencapaian di 2012. Ga bijak sih emang kalo gue bilang ga dapet apa-apa di 2012. Banyak hal mengharu biru di 2012, dan huh rasanya malas mengingatnya. Gue serasa nge repeat hidup gue di 2009, dan udah ketebak banget 2013 ini gue akan mengalami masa-masa 2010 gue. Edan betul-betul di luar ekspektasi gue.

Little things in 2012 that I've been passed
  • Jan, itu kerjaan kantor gue dari akhir taun sibuknya nyambung sampe bulan March. Bulan ini dilewati dengan bekerja, bekerja dan bekerja, nyaris tak punya hari libur.
  • Feb, sempet recovery relationship sama si gembol, ritual wajib tahunan ngunjungi Jemanii Resto "candle light dinner". Di bulan ini juga gue escape dari kesibukan kantor menempuh 9 jam perjalanan ke Purwokerto, Batu Raden bareng temen-temen kantor, it was nice memory.
  • March, Gue terpaksa cabut dari kantor lama gue, bukan dipecat tapi semacam dipecat, 2 taun saja gue bertahan disitu. Ga perlu lah gue explain alesannya, takutnya ga sengaja ada bos baru gue baca blog gue kan gawat!! Pokonya sangat menyedihkan dan mengharu biru. Di bulan March juga gue melepas penat trip ke Lombok sebagai pengangguran, next week abis dari Lombok lanjut ke Tidung, ngitemin badan lah mayan, sama ngabisin tabungan. Oia di awal bulan ini juga gue sempetin attend di live concert Roxette sama gembol, seneng banget deh.

Wednesday, December 19, 2012

Cerpen Koran Mingguan

Posted by rismawid at 10:28 AM 0 comments
Teknis Standar Pengiriman Naskah
 
Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.
Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.
Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .
Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.
“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”
Selesai.
Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin.
Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
.
Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14
17 Januari 2012 09:29 WIB
.
Contoh pengantar pengiriman.
.
Dari : Saroni Asikin
Kepada : sastra@jawapos.co.id Jawapos
Dikirim : Kamis, 15 September 2011 5:25
Judul : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
.
Semarang, 15 September 2011
Kepada
Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
di tempat.
Dengan hormat,
Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Saroni Asikin
saroniasikin@yahoo.co.id
Tlp. 081390317733
Rek Mandiri Pati 1350005188246 a.n. Saroni Asikin

sumber : http://lakonhidup.wordpress.com/

Monday, December 17, 2012

Judas

Posted by rismawid at 8:06 PM 0 comments
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku"
kalimat tersebut tentu tidaklah sulit diterjemhkan. Kau bersamaku, aku tak meragukanmu, namun kau menjualku.

Berulang kali aku sadarkan diriku, tidaklah benar aku percaya terhadapmu. Berulang kali pula aku terkecoh dan tak meyakini betapa kau menikamku. Berulang kali aku dibuatmu celaka. Kau tahu, aku tetap berusaha meyakinimu, karena diriku bukanlah manusia yang mengandalkan intuisi untuk suatu urusan. Jika bukan kau yang berkata "Ya memang aku menikammu", maka ketahuilah teman, aku akan tetap percaya terhadapmu.

Sebodoh itukah aku?

Kau pernah menangis tak ingin melepas kepergianku, kau pun mengunjungiku. Kau tahu teman, lara yang kau ciptakan sungguh terasa melekat dihatiku. Beberapa kali aku merindukanmu, meneteskan lara yang sama ketika rindu itu mengamuk. Tapi teman senyum manismu, hangat pelukmu dan tangis kehilangan akan aku pada akhirnya tergerus kepalsuan. Congkak dan ucapmu-lah yang pada akhirnya menunjukkan dirimu.

Masa lalu, dahulu, beberapa waktu yang telah kita lalui, aku sudah tak ingin mengingatnya lagi, bahkan teka teki tentang kasihmu yang busuk sudah tak mau aku cari kebenarannya.

Teman... intuisiku kali ini melonjak-lonjak minta diperhatikan, akal sehat dan etika tetap aku suguhkan terhadapmu walau aku memutuskan kita tak usah berteman lagi. Pesan terakhirku di inbox-mu akan sangat membuat kau mengerti dan tersadar, "aku tak sebodoh itu"

SC... senyummu tetap manis teman, namun pelukmu sudah kurasakan dingin, sedingin ciuman Judas ketika memjual Isa.

Tuesday, November 27, 2012

Pensiun jadi buronan

Posted by rismawid at 4:36 PM 0 comments
Pagi-pagi sekitar jam 6 pagi di hari Sabtu, emak gue udah mulai berisik bangunin seisi penghuni rumah, especially gue!! Apaan sih mak, masih pagi di hari libur pula. OUCH!! nyaris lupa, gue punya hajat hari ini. Yep yep urgently priority di akhir bulan Nov "Gue mau test bikin SIM" yes A lisence, orang-orang bilang sulit lho mblo test nya, emak gue bilang "udah lah teh nembak aja, ga perlu nunggu cape-cape". Dengan semangat juang menjunjung birokrasi yang jujur gue tetap memilih jalur test.

Ok, jam 7.30 gue dan nyokap beserta si kecil sasa sampai di Polres, manusia-manusia berbaju cokelat itu lagi pada apel ga tau upacara, akh ga peduli juga gue. Gue dan nyokap langsung bikin surat keterangan sehat dari klinik di dekat Polres. Mobil gue parkir di depan klinik karena gue berasa grogi harus parkir di dalam Polres.

Gue dan nyokap juga si kecil sasa terpaksa jalan kaki ke dalam area Polres. Belum 50 meter berjalan dari gerbang Polres, tiba-tiba bapak setengah tua berseragam cokelat manggil-manggil dari pintu salah satu ruangan di Polres. Gue samperin dong itu bapak-bapak, namanya JAHADI, dia tanya :
"Mau kemana?"
"Mau bikin SIM pak"
"Mau test? bikin SIM ga gampang neng, nunggu lama, belum kalau ga lulus harus ngulang lagi, buang-buang waktu"
Gue sedikit kesel tuh saat itu, maksudnya apa sih ni orang tua, dia seolah menghina konstitusi nya sendiri, dengan merendahkan birokrasi yang selama ini sudah berjalan.
"Maksudnya apa ya pak?"
"Yaa saya cuma mau bantu aja, daripada capek-capek test, lebih baik lewat jalur cepat aja, tapi biayanya lebih mahal, neng tingal bayar 350ribu, abis itu tingal poto aja"
"Trus SIM nya bisa jadi kapan pak?"
"Kalau ga ada halangan bisa hari ini, ga bisa dipastikan"
hmmm males gue, roman-romannya tukang tepu nih.
"Ah engga deh pak makasih, saya mau test aja, tempo hari saya test SIM C juga lulus murni"
"Ya silahkan kalo mau capek"
Tampang Pak Jahadi langsung berubah kecut, tanpa basa basi langsung balik badan ninggalin gue dan nyokap, dasar ga sopan!

Sampai di lokasi, gue langsung daftar dan nunggu panggilan buat ambil nomor test. Gue dapet nomor test 36 gelombang III, gue langsung cek schedule time gelombang III, Schedule terpampang di depan loket registrasi, gelombang III SIM A pukul 10.00. Yaa seperti biasa lah waktu Indonesia bagian karet jeprut, gue masuk ruang AVIS untuk ujian teori jam 11.50 ngaret nyaris 2 jam.

Di dalam ruangan ada 1 orang polisi, 1 orang polwan, dan 2 orang peserta ujian 9gue dan ga tau siapa). Ujian pun dimulai, total soal ujian ada 30, syarat kelulusan adalah bisa menjawab dengan tepat minimal 18 soal. Setiap soal diberi waktu 60 detik. Smua soal pilihan ganda, menjawab soal cukup dengan menekan tombol ABC di meja ujian.

Soal ke-30 sudah terjawab, saat itu juga result test langsung keluar, dan taraaaammm gue ga lulus hahahaha gue cuma bisa jawab 10 soal saja. Dengan tampang males gue nyamperin si polisi ujian namanya Pak ANWAR, buat nanya jika mau mengulang minggu depan, prosesnya bagaimana? Si bapak ini bukannya menjawab pertanyaan gue malah balik tanya,
"Mau jadi sekarang ga SIM nya?"
"Ya maunya sih gitu, tapi kan saya ga lulus, harus ngulang lagi minggu depan"
"Kalau mau jadi sekarang 350ribu, ga usah test"
Mati gue, ni orang mau ngeruntuhin lagi idealisme gue.
"Sebentar ya pak saya mikir dulu"
Akhirnya gue keluar ruangan, berfikir sebentar dan dengan menyesal gue balik lagi menemui Pak Anwar dan membayar 350ribu untuk SIM A tanpa test.

Ga sampai 1 jam SIM gue jadi, semua proses berjalan sangat cepat. Beberapa polisi yang tadi rada sengak dan jutek tiba-tiba pada ngobral senyum dan gue betul-betul dipermudah segala sesuatunya, bahkan formulir biodata saja gue cuma disuruh tanda tangan. Gila memang tapi gue kali ini ga berani koar-koar idealisme, karena dengan menyesal gue sudah sedikit sama dengan mereka. Rasanya sungguh beda ketika gue dengan murni lulus test untuk SIM C (I proud to be myself) tapi kali ini dengan 350rb gue dinyatakan lulus mendapat SIM A (Brock of Risma). Ya gue disudutkan pada kondisi yang serba kepeped, sesegera mungkin gue harus megang SIM A, jika tidak gue terus-teruan jadi buronan operasi Lalin.

Polisi Melayani Masyarakat.
Melayani siapa? Masyarakat yang mana?

Saturday, October 27, 2012

Bye Menny

Posted by rismawid at 5:57 PM 0 comments
Oct 20, 2012 my last day driven this car.
Entahlah rasa kehilangan itu ada ketika si pembeli mengelurkan si menny dari halaman rumah kami membawanya keluar, menjauh perlahan mulai tak terlihat sampai belakang mobil sudah tak tampak lagi. Bulir-bulir panas menggenangi bola mata, hangat namun tak tercucur. Banyak memori terukir bersamanya, teganya dirimu ketika aku mengemudi seorang diri kau buat aku kelabakan di jalan tol dengan ngadat ga mau melaju, mogokmu saat nanjak jembatan memberikan sumbangsih kemacetan beberapa KM, alarm mu yang suka tiba-tiba menyala sudah membuatku cukup bersabar menahan malu, AC mu yang ngadatan selalu membuatku mandi keringat, setir mu yang berat naujubillah membuatku harus dipijit seminggu 2x. Tapi kenangan manis pun tak kalah banyak, memilikimu sungguh nano-nano rasanya.
Bye bye Menny, semoga majikan barumu lebih berduit dari kami, hingga kau dirawat dan kembali cantik.


Wednesday, September 5, 2012

Big dream

Posted by rismawid at 9:15 PM 0 comments
This is not just a dream, this is a big dream.
Ya, i proud to be myself.
maybe i'm not a doctor, or a lawyer, i'm just a jongos, but i have a big dream.
sometimes i'm afraid to start make this dream come true.
i spend many days, many nights, just thinking please riss dont be scare.
go ahead go ahead, you must be brave and serious.

Friday, August 10, 2012

Kunang-kunang di temaram malam

Posted by rismawid at 10:21 AM 0 comments
KEPARAT!!!
"Miskin gue ga semiskin lu gigolo sinting!!!"
"Tahan Ray, please gue mohon"
Ia menjerit-jerit seperti sedang kesurupan.
***
Seteguk terakhir aku habiskan untuk menghangatkan tubuh. Malam ini sangat temaram. Sedikit mengkhayal mendapati kunang-kunang disini. Khayalan bodoh. Tentu saja setiap hari yang kudapati adalah kunang-kunang. Sinar yang terpancar begitu bening dan berbau harum, hilir mudik berterbangan melewati batang hidungku, sesekali kuhisap dalam-dalam aroma kunang-kunang yang mengerling. Harummu membuat degub jantungku memompa liar. Sepasang mata ini lekat-lekat menikmati panorama kunang-kunang namun aku tetaplah aku, jangankan untuk berlari menangkap kunang-kunang, terpikir mengejarnya pun tak pernah kuijinkan. Setiap hari hanya diijinkan menelan ludah.

"Bir satu bang"
"Silahkan mba"
"Nebeng duduk ya"
"Boleh mba silahkan"

Duduk saja tak akan saya tagih kok mba, bila perlu birnya saya ga kasih harga mba. Saya ikhlas kios rokok butut ini mba duduki lama-lama. Pria sinting bergumam dalam hati, padahal menatap wanita saja tak berani.

"Ratih"
Wanita pembeli bir ini menyodorkan tangan. Apa ini artinya ia mengajakku berkenalan?
Sedikit bergetar kuberanikan membalas sodoran tangannya.
"Ray. Raymond"
Ucapku sangat terbata-bata.
"Raymond? keren amat nama lu. Tapi ga sekeren rejekinya ya?"
Ratih menatap langit lalu meraih lenganku yang sedari tadi mematung dibawah lampu jalan diatas trotoar.
"Becanda Mon. Eh Ray maksudnya. Duduk sini temenin gue"
Rasanya aku tak perlu berfikir panjang, aku putuskan akan duduk disamping Ratih.
"Nunggu dijemput mba?"
Aku memberanikan diri memulai percakapan
"Emm bukan. Gue nunggu dihajar"
Nada bicara Ratih begitu santai tanpa beban.
"Akh mba Ratih ini suka becanda"
Ratih melirikku dan tersenyum.
Dewa yang agung wanita disampingku manis sekali. Baunya harum, tak bosan aku menghisapnya. Apakah ini kunang-kunang? Bolehkan aku. Ah tidak aku kan hanya diijinkan menelan ludah.

Pukul 02.00 lewat tengah malam. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tak jauh dari kiosku, kira-kira 20 meter. Ratih berdiri meletakkan uang 50.000 di pangkuanku.
"Semoga rejekimu kelak sekeren namamu"
Bisiknya sambil berlalu dari hadapanku. Kini indera penciumanku sedang bermanja-manja dengan bau harum yang Ratih tinggalkan. Seketika saja aku tersadar, apa ini artinya pertemuan pertama sekaligus terakhir dengan Ratih?

3 orang pria keluar dari mobil, salah satunya menghampiri sekumpulan orang pinggiran yang sedang mengemper di emperan ruko-ruko sepanjang trotoar jalan Mangga besar. Kuperhatikan Ratih berjalan ke arah 2 pria yang bersenderan di sedan hitam yang terparkir di pinggir trotoar. Malam mulai meniupkan nafas-nafas dingin menusuk tulang, jaket lusuhku sudah benar-benar tak bisa lagi menahan terpaan nafas malam. Dan entahlah malam ini terasa sangat dingin dan temaram.

"BANGSAT!!!"
Banci lu semua!!!
Suara perempuan dari jarak 20 meter. Tak salah lagi itu suara Ratih. Aku berlari menghampiri keributan yang sedang berlangsung di tepi jalan di balik mobil sedan hitam.
"HENTIKAN!!!"
Pekikku mencoba melerai penganiayaan yang mereka lakukan terhadap Ratih. Ratih sudah tersungkur diatas aspal jalan, darah bercucuran dari hidung dan pelipisnya, kedua pria biadab ini masih saja melancarkan tendangan-tendangan keras ke arah perut Ratih. Ratih tak bergeming, ia diam saja menutup perut dengan kedua tangannya. Aku mencoba menahan serangan kedua pria biadab ini, belum sempat aku berhasil, tiba-tiba seseorang meraih pundakku dari belakang. Aku tersayat, aku ingin muntah. Dari dalam perut seolah ada dorongan kuat yang harus aku muntahkan. Aku terjatuh, menggelepar di samping Ratih. Semua kekacauan pun terhenti.

Dingin malam tak lagi terasa. Aku kian hangat. Ratih tertunduk menangis disampingku. Sedan hitam sudah berlalu. Orang-orang pinggiran yang sedari tadi diam kini mulai berdatangan. Tak seorang pun berani menyentuhku. Aku hanya jadi salah satu hiburan mereka di tengah malam dingin yang temaram.

"Kenapa ikut campur urusanku bodoh?"
"Gigolo sinting itu ayah dari janinku.
"Gue bersumpah dia harus mati demi sekaleng bir yang udah gue bayar tadi."
Ratih, air matanya deras mengalir berjatuhan di pipiku. Aku semakin hangat. Dan si kental merah padam ini mulai menggenang, menciptakan kehangatan di sekujur tubuhku.
Ratih, bau harumnya perlahan menghilang. Aku sepertinya sudah dingin atau bahkan hampir membeku.
Lampu jalanan tak lagi menyala, nafas malam tak lagi mempermainkanku. Begitu juga kunang-kunang, tak lagi berterbangan melewati batang hidungku.
Bau harum Ratih sudah benar-benar hilang. Tiba waktuku untuk tidur panjang. Aku tak akan lagi menelan ludah.

Friday, July 13, 2012

Choose the second one, really?

Posted by rismawid at 10:46 PM 0 comments
If you love someone at the same time, choose the second one, because if you really loved the first one you wouldn't have fallen for the second
--Johnny Depp

Ini Johnny Depp bisa aja bikin kalimat begitu, yes you damn right sir.
Bisa jadi quote di atas itu memang betul, tapi ga jarang juga orang berkata "ga seperti itu ah".
whatever lah mau berpendapat apa, toh negara kita sudah menjadi negara demokrasi bukan? katanya itu juga. Okelah saya disini bukan mau ngomongin negara demokrasi. sedikit menumpah ruah sepotong pengalaman.

Beberapa tanggal sudah terpenggal, melewati liuk lekuk jalan hidup. Ketika bertemu jalan tol, bebas hambatan tentunya, asal bukan tol Jakarta - Cikampek saja. Sepertinya datarnya hidup sangat terasa, saat itu ekosistem sangat terjaga keseimbangannya. Senada, searah, mengalir tenang tak menghasilkan percikan yang begitu berarti. Itulah rutinitas saya setiap hari semenjak 3 bulan yang lalu membawa kembali koper-koper semangat juang yang kalah karena ilusi. Mengulang pagi setiap hari, ditelan kesibukan tuntutan bertahan hidup, kembali saat gelap, sedikit santapan, lalu menuntaskan hari di dalam kamar bisu berkawan lelah dan gundah. Lumayan membosankan bukan? tentu saja, dan saat itu saya sempat menjerit-jerit dalam hati protes terhadap Tuhan, kenapa Ia tak pernah memberi saya sesuatu yang membuat saya merasakan hidup yang hidup? saya nyaris berfikir bahwa Tuhan sepertinya lupa kalau dia pernah menciptakan saya. Sampai ketika saya dipertemukan kembali dan saat itu Tuhan menjawab jeritan hati saya.

Menunggu saya belasan tahun sejak duduk di bangku SMP. Bukan ironis, tapi merasa sedikit hiperbola saja, tapi juga sedikit membuat degub-degub aneh. Saya sudah bukan kanak lagi, rayuan seperti itu terkesan murahan. Tanpa berniat memikirnkannya, rayuan murahan itu mendesing terus-terusan di ingatan. Gawat tampak mulai memecah kosentrasi. Ok saya wanita dewasa tak mungkin goyah hanya dengan rayuan murahan. Idealisme mencoba menghibur diri.

Friday, June 15, 2012

Kembalinya Nika

Posted by rismawid at 9:13 PM 0 comments

  Raka terkejut, ia terus berlari sampai senja keemasan itu menelannya.

“Kenapa wajahmu murung sekali Nika? Sedang bersedih?”
Ibuku selalu bisa menangkap air mukaku, bagaimanapun aku menyembunyikannya.
“Tidak bu, aku hanya sedikit kelelahan selepas bermain tadi.
“Yasudah sekarang mandi dan lekas istirahat, nanti ibu buatkan susu cokelat hangat kesukaanmu.

Mandi adalah hal yang paling aku benci. Aku tak suka bertelanjang. Tapi ibu selalu menyuruhku mandi, mandi dan mandi. Apa bagi ibu jika tidak mandi berarti dosa? Ah ibu andai kau bukan ibuku pasti aku akan melawanmu. Tak taukah kau bahwa aku sangat tidak menyukai tubuhku ini?

Sejak aku masih menyatu dengan tubuhmu, kau sudah tahu bahwa aku akan lahir begini. Bercak-bercak hitam yang menyerupai sisik di sekujur tubuhku membuat aku jijik jika melihat tubuhku bertelanjang tapi kau tetap saja mengajakku singgah di dunia ini. Tidakkah kau berpikir bahwa akulah yang akan menanggung semuanya kelak?

Sunday, June 10, 2012

Di Blok-S Kuhabiskan Malam demi Malam

Posted by rismawid at 1:35 PM 0 comments
ini tu lanjutan dari cerpen sebelumnya "Di blok-S kuleburkan perjakaku"

"Jadi istri saya dan bayi didalamnya sehat kan dok?"
"Tentu saja pak Doni, istri anda sepertinya tau betul bagaimana mempersiapkan diri menjadi seorang ibu".
"Iya dok, istri saya memang cerdas, lain dengan saya"
"Akh pak Doni ini terlalu merendah, bisa memberi istri kado paling berharga apa itu tidak cerdas pak?"
Pembicaraan dua orang lelaki dewasa pun ditutup dengan tawa. Seraya Isni keluar dari ruang periksa di temani sang suster, kami pun berpamitan pada pak dokter.

8 bulan lagi aku akan menjadi ayah. Astaga perasaan suka ini begitu hebat bergemuruh di hati. 2 tahun kami menikah akhirnya Tuhan mempercayai kami dengan menitipkan makhluk mungil yang sekarang sedang bersemayam di perut Isni. Kupandangi Isni lekat-lekat, ku elus-elus perutnya yang sebetulnya belum buncit, karena usia kehamilannya baru menginjak 4 minggu. Terima kasih Isni, kau telah menyempurnakan hidupku.

Saturday, May 26, 2012

Aku bukan negara

Posted by rismawid at 8:46 PM 0 comments
Lagi, lagi, lagi, dan lagi. Janji, janji, janji, dan janji lagi. Satu kali pun tak ada yang kau tepati, dalih-dalih kebetulan, lagi-lagi kau ingkari janji. Janji lagi, ingkar lagi, marah lagi, bertengkar lagi, berkali-kali tak ada habisnya. Aku bukan negara, kita tak terikat secara perdata ataupun pidana, lalu kenapa aku meuntutmu berjanji. Bodoh. Bodoh bukan main aku, untuk apa aku berbuat begitu? kau bukan siapaku, tak ada hal ihwal apa pun yang mengikat kita. Kau berhak menggunakan waktu dan inginmu sesuka hatimu. Lalu kenapa aku harus marah ketika kau ingkari janji yang kutuntut darimu? Ah tolol sekali aku.

Coba tegaskan padaku, kita memang tak terikat apapun bukan? tak kusangka aku sebodoh ini, bertahun-tahun memposisikan diri sebagai negara dan punya peraturan hukum. Lalu kau warga negara yang diwajibkan mengikuti semua hukum yang berlaku di negaraku. Ingin lari meninggalakan planet ini rasanya jika ingat betapa bodohnya aku.

Sunday, May 20, 2012

di Blok-S kuleburkan perjakaku

Posted by rismawid at 11:28 AM 0 comments
"Tanggal 23 bulan depan gue merid sob"
serentak kawan-kawanku menjawab "WHAT??? kenapa begitu mendadak? lu tekdung ya?"
"Enak aja, kaga lah. Bokap yang nyuruh, ga tau lah gue maunya mereka gitu ya gue nurut aja apa kata orang tua. Nyokap bilang sih itung-itung sekalian syukuran karena akhirnya gue lulus sidang juga walau makan waktu nyaris 6 tahun. Tau sendiri syarat gue buat kawin ya ijazah sarjana gue. Padahal abis lulus juga gue tetep kelola cottage-cottage bokap di Lembang, ga bakalan gue nyari kerja."
"Ok gue ga bisa nongkrong lama-lama nih, biasalah kalau kata orang tua, gue lagi dipingit. Tapi weekend ini gue masih joint kok bareng kalian".
Tanpa menghiraukan tanggapan teman-teman, aku pun melengos begitu saja tanpa kupikir ulang apa yang baru saja aku janjikan kepada teman-teman.

Isni pacarku, gadis cantik dari kampus seberang. Sudah 2 tahun yang lalu mendahuluiku meninggalkan kampus, dia lulus sebagai salah satu lulusan terbaik di jurusannya dan mendapat pekerjaan di perusahaan Forwarding milik Belanda di bilangan Jakarta selatan. Isni sangat mapan, hidupnya nyaris tidak ada yang kurang, dia cantik, tubuh semampai, kulit bersih, rambut hitam agak bergelombang, dengan mata agak sipit dan lesung pipit di pipinya membuat dia makin terlihat manis. Selain kesempuranaan fisik yang ia punya, ia pun cerdas dan dewasa. Isni sangat komunikatif, wawasannya luas, dan memiliki kepribadian yang baik. Siapapun akan merasa sangat beruntung jika memiliki Isni, dan akulah si pria beruntung itu.

Saturday, May 19, 2012

Buku nikah Miranti

Posted by rismawid at 12:24 PM 0 comments
Perilaku dan kebiasaannya normal saja, tidak ada yang salah dengan rumah tangga mereka. Malam untuk tidur, pagi terbangun kembali, makan, bekerja, menonton tv, mengobrol alakadarnya. Malam pertama mereka lakukan sebagaimana pengantin pada umumnya, mereka basah dalam desah, menggeliat dalam pekat nikmat, bertaut untuk memadukan dua tubuh menjadi satu. Kala itu bahagia pun membuncah pada puncak senggama mereka.
"Lalu apa yang ibu permasalahkan? Aku bahagia menjalani hari-hariku yang penuh dengan pengulangan dan pengulangan yang tak tahu kapan akan berubah".
Begitulah perlawanan Miranti terhadap ibunya yang ia bilang, hanya ibu yang bisa menundukkan seribu pria untuk menghujaninya dengan lembar demi lembar rupiah.

Zul hanya sibuk mencari nafkah, tak ada hari yang tak ia lewati dengan bekerja, hari minggu sekalipun akan ia habiskan dengan bekerja di rumah, ia akan berada di ruang kerjanya berjam-jam, dan kalaupun ia tak bekerja, ia akan habiskan dengan tidur seharian dan memanjakan dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Bukan bersama Miranti. Kendati demikian Miranti tetap tunduk pada suatu buku yang ia punya yang dikeluarkan KUA lima tahun lalu. Buku itu memenjara ia dari kebahagiaan, mengambil hak-hak ia sebagai seorang manusia utuh, ia hanya hidup untuk buku itu, ia seolah lupa bagaimana rasanya bahagia, ia hanya mau menjalani hari demi buku itu.

Sunday, April 29, 2012

Terima kasih

Posted by rismawid at 9:19 PM 0 comments
Katanya ia mengerti akan tulisanku.
Bagiku itu saja sudah lebih dari cukup. Asal ia tak bosan membaca setiap tulisanku, maka ia akan tahu betul betapa aku sangat memaknai kehidupan yang tercipta setelah kehadirannya. Pesan demi pesan yang terkandung didalamnya kuharap bisa melapangkan hatinya dan membuatnya mengerti bahwa aku tak lagi ingin beradu ego dengannya, tak lagi ingin menebar kebencian di hati masing-masing. Aku hanya ingin make a good some memories.

Katanya lagi jam enam ia ada acara dengan teman-temannya.
Sejak kami berjauhan, aku tak pernah memintanya melaporkan kemana ia hendak pergi dengan siapa ia hendak jumpa dan akan pulang jam berapa ia? Bukan karena aku tak peduli, tapi aku tak ingin membuat hidupku dan hidupnya repot, aku pasrahkan pada yang maha kuasa. Aku yakinkan diriku mempercayainya, aku yakinkan diriku bahwa ia akan menjaga hati kita. Dan sepertinya ia memang menjaga hati kita, aku sungguh terenyuh dengan sikapnya yang mencoba menanamkan benih kepercayaan. Terima kasih, aku akan merawat dan memberinya pupuk agar tetap terjaga dan tumbuh subur.

Kita sudah tak dekat lagi tapi kau selalu menguatkanku dengan kata-kata "kita tetap bisa bertemu, aku akan mengunjungimu". Terima kasih atas waktu dan tenagamu. Terima kasih kau tepati janjimu.


Saturday, March 10, 2012

I eat Marie & Per

Posted by rismawid at 9:36 PM 0 comments
Sabtu, March 03, 2012 at MEIS Carnaval Ancol
Salut ga bisa berhenti berdecak kagum, Marie Fredriksson di usianya yang hampir 59 tahun masih bisa on perform, walaupun udah ga selincah dulu. Begitu juga dengan Per Gassle sesuai dengan namanya bukan Per kalau ga mental-mental kaya per. Sedikit ada penyesalan dalam diri mungkin tak lama lagi gue akan kehilangan mereka, duo sweden yang gue cintai.

Ketika mereka masih hot-hot nya, saat itu usia gue belum ada genap 5 tahun. Era-era keemasan mereka ga sepenuhnya bisa gue nikmatin, kini keduanya sudah semakin berumur ga mungkin lagi bisa menciptakan suasana live concert dikala mereka masih pada era nya, terutama Marie, tapi tak masalah performa kalian kemarin cukup membius gue berhari-hari stay tune your album in my iPod
LOVE YOU ROXETTE
semoga kalian panjang umur.




I love this leather jacket



Sunday, March 4, 2012

Jl. Riau 11

Posted by rismawid at 11:27 PM 0 comments
Cerpen yang kesekian, ceritanya benar-benar pendek

Hari rabu, lagi-lagi aku lingkari kalenderku dengan spidol merah. Bukan pertanda aku datang bulan, bukan pula hari ulang tahunku atau jadwalku minum obat, rabu akan selalu special dihidupku. Di suatu hari Rabu itulah semua dimulai, hanya pada hari rabu aku melihatnya didepan pintu kamarnya, beberapa bulan terakhir ini tak pernah aku lewatkan menengok ke kiri ketika aku meluncur menuruni anak tangga dari lantai 3 ke lantai dasar rumah kost-kostanku, tapi rabu kali ini berbeda, aku melihatnya tak sendirian.

Ironis benar nasibku, menyukai sosok tak kukenal, sosok yang hanya kulihat di rabu pagi antara pukul 6.10 sampai 6.15, sosok yang hanya akan melempar tatapan kosong ke arahku, lalu lurus lagi ke arah pintu kamarnya dan dalam sepersekian detik lenyap ditelan pintu bernomor 2. Dalam waktu yang bersamaan aku pun hanya akan melanjutkan langkahku menuruni tiap anak tangga dengan hati tersenyum.


Thursday, February 23, 2012

Apologize

Posted by rismawid at 9:19 PM 0 comments
dan.... gue ga pernah punya niat menyakiti, Tuhan tahu dosa gue hanya padaNya, ga ingin gue menyakiti siapapun, terlebih mereka yang gue cintai, kalau lu percaya gue cinta lu, harusnya lu yakin kalau gue ga akan mau ngasih kado kecewa.

kadang memang hidup ga bisa dikendalikan sendiri, ga semua rencana yang udah disusun rapi bisa realisasi dan berbuah manis, kadang gue kalah karena tak cukup kuat mengendalikan janji, jika kata maap tak berguna lagi, dengan apa gue harus tebus kekalahan gue?
 

Hot Tea Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos